Rangkaian CEO Connect yang merupakan bagian dari 16th Kompas100 CEO Forum Powered by PLN kembali dilanjutkan. Forum sesi keempat ini dilangsungkan di Bentara Budaya Jakarta pada Rabu (22/10/2025) dengan mengangkat tema “Waste To Energy: Investasi dan Sinergi Pendorong Keberlanjutan”.
Dihadiri oleh perwakilan pemerintah, pelaku industri, serta perwakilan sektor-sektor investasi berkelanjutan, diskusi kali ini berhasil menjadi ruang dialog lintas sektor untuk membahas bagaimana pengelolaan limbah dapat bertransformasi menjadi sumber energi alternatif, sekaligus membuka peluang investasi hijau dan memperkuat ekosistem ekonomi berkelanjutan di Indonesia.
Managing Director Danantara Indonesia Stefanus Ade membuka forum dengan menyoroti pentingnya penataan skema pembiayaan yang adaptif dan kolaboratif untuk mempercepat realisasi proyek waste to energy (WTE) di Indonesia.
Menurutnya, keberhasilan pengembangan WTE sangat bergantung pada bagaimana proyek tersebut dirancang tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari sisi kelayakan finansial dan kepastian ekosistem pendukungnya.
“Setiap proyek WTE harus dilihat secara holistik, mulai dari ketersediaan pasokan limbah, keandalan teknologi, hingga kepastian hukum dan kebijakan tarif listrik. Tanpa kejelasan di aspek-aspek ini, risiko bagi investor menjadi terlalu tinggi,” ujar Stefanus.
Senada dengan itu, Executive Vice Presiden Aneka Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero) Daniel K.F. Tampubolon menjelaskan bahwa pengembangan proyek WTE juga merupakan strategi penting dalam memperkuat transisi menuju sistem kelistrikan hijau dan berkelanjutan. Ia menegaskan, karena itulah PT PLN (Persero) kini tengah menyiapkan infrastruktur jaringan yang mampu menyerap listrik dari pembangkit energi terbarukan secara efisien dan terintegrasi dengan sistem kelistrikan nasional.
“PLN terus beradaptasi agar sistem kelistrikan kita mampu menerima energi hijau dari berbagai sumber, termasuk WTE. Maka dari itu, tantangannya kini bukan hanya soal intermitensi atau stabilitas daya, tetapi juga bagaimana memastikan energi yang dihasilkan bisa terdistribusi dengan efisien dan andal,” ujar Daniel.
Aspek pembiayaan dan keberlanjutan proyek energi juga disorot oleh Member of Supervisory Board, Standard Chartered Indonesia Adhi Sulistyo Wibowo yang menekankan pentingnya pembiayaan hijau (green financing) berstandar global. Menurutnya, proyek WTE memiliki potensi besar untuk masuk dalam kategori investasi berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG), asalkan memenuhi prinsip keberlanjutan dan transparansi dalam setiap tahap pengembangannya.
“Dari perspektif perbankan internasional, minat terhadap proyek energi terbarukan di Indonesia terus meningkat, termasuk pada sektor WTE. Namun, keberhasilan pembiayaan sangat bergantung pada kejelasan kebijakan, stabilitas proyek, serta adanya jaminan kepastian pendapatan bagi investor,” ujarAdhi.
Ia menjelaskan, Standard Chartered aktif mendorong penggunaan instrumen pembiayaan hijau untuk mendukung proyek-proyek ramah lingkungan di negara berkembang. Namun, agar proyek WTE bisa menarik minat pembiayaan global, diperlukan juga penguatan tata kelola, kepastian keandalan pasokan limbah sebagai bahan baku, serta hubungan kolaborasi yang solid antarsektor.
Diskusi ditutup dengan pemaparan dari Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa yang menyajikan tinjauan kritis berbasis bukti terhadap kebijakan dan pilihan teknologi waste-to-energy di Indonesia Fabby menekankan bahwa kebijakan WTE saat ini perlu diselaraskan dengan karakteristik aliran limbah di masing-masing kota, karena tidak ada satu teknologi tunggal yang cocok untuk semua kondisi.
“Untuk limbah organik berfraksi tinggi, teknologi seperti anaerobic digestion menawarkan keuntungan dalam hal pemulihan energi dan penanganan residu. Sementara untuk limbah campuran dengan fraksi plastik besar, gasifikasi atau insinerasi dengan kontrol emisi ketat mungkin lebih relevan. Pilihan teknologi harus didasarkan pada karakteristik feedstock dan kapasitas pengelolaan lokal,” ujarnya.
Fabby juga mengingatkan pentingnya analisis dampak menyeluruh, mulai dari penerimaan masyarakat, penciptaan lapangan kerja lokal, jejak karbon, hingga tata kelola residu abu yang harus menjadi bagian tak terpisahkan dari perencanaan proyek.
“Proyek WTE yang baik bukan hanya soal pembangkit listrik. Ia juga harus menyelesaikan persoalan sampah kota, memberi manfaat ekonomi daerah, dan meminimalkan dampak lingkungan melalui pengelolaan abu dan emisi yang transparan,” pungkasnya.
Melalui sinergi antara pemerintah, industri, lembaga keuangan, dan inovator, forum ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi hijau yang nyata bagi Indonesia.
Sebagai bagian dari rangkaian 16th Kompas100 CEO Forum 2025 powered by PLN, forum ini berhasil menegaskan bahwa transisi menuju waste to energy bukan semata upaya pengelolaan lingkungan, melainkan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi dan memperluas nilai ekonomi dari sumber daya yang selama ini terbuang.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai Kompas100 CEO Forum, kunjungi: kompas100.kompas.id atau media sosial melalui akun @kompas100ceoforum dan tagar #Kompas100CEOForum
16th Kompas100 CEO Forum 2025 powered by PLN diselenggarakan oleh Harian Kompas didukung oleh PT PLN (Persero), Standard Chartered Indonesia (stanchartin), Skystar Capital (skystar.vc), PT Telkom (Persero) (@telkomindonesia).
Sumber: Harian Kompas & Kompas.id